Mahfud MD, Pemilu Bukan Lagi Pesta Demokrasi Tapi Sebagai Teror

  • Whatsapp
Mahfud MD bersama Tim Jelajah Kebangsaan saat singgah di Jember disambut Bupati Jember, dr. Faida. MMR, di stasiun Jember, Kamis (21/2/2019).
Mahfud MD bersama Tim Jelajah Kebangsaan saat singgah di Jember disambut Bupati Jember, dr. Faida. MMR, di stasiun Jember, Kamis (21/2/2019).

LONTARNEWS.COM. I. Jember – Pemilihan umum (pemilu) yang biasa digelar lima tahun sekali oleh banyak kalangan tidak lagi dirasakan sebagai pesta demokrasi, tapi sudah berubah menjadi menakutkan tak ubahnya seperti teror. Demikian point penting yang disampaikan Prof. Dr. Mohammad Mahfud MD., S.H., S.U, dari perjalanan Jelajah Kebangsaan yang dilakukan bersama timnya.

Mahfud mengaku, perjalanan ini dilakukan, akibat rasa risau karena pemilu yang biasanya disebut sebagai sebuah pesta, justru bagi sebagian orang dirasakan sebagai teror. “Karena terdapat orang yang saling membenci dan saling melemparkan issue, sehingga menimbulkan keresahan bagi kelangsungan ikatan kebersatuan kita sebagai orang Indonesia,” terang Mahfud MD dalam perjalannya Jelajah Kebangsaan bersama timnya saat singgah di Stasiun Jember, Kamis (21/2/2019).

Sebab itu Prof. Mahfud memandang perlu dilakukan perjalanan Jelajah Kebangsaan untuk memberitahu kepada masyarakat supaya Pemilu dimanfaatkan dengan baik guna mencari pemimpin dan wakil rakyat yang nantinya akan diterima siapapun yang akan terpilih. “Hentikan permusuhan-permusuhan itu sampai dengan 17 April sore. Kalau sudah pencoblosan, tunggu saja. Siapapun yang menang kita taati,” ajak Mahfud yang ketika singgahan di Jember disambut Bupati Jember, dr. Faida. MMR.

Mahfud MD menjelaskan, jika terdapat kecurangan, ada pengadilan dan MK yang akan menyelesaikan. Sehingga pelaksanaan pemilu dan demokrasi bisa berjalan dengan tertib. “Jangan melempar hoax,” pintanya.

Masyarakat juga diajak untuk menjadikan pemilu sebagai pesta demokrasi yang tidak menakutkan tapi menyenangkan. “Pesta demokrasi itu memilih calon-calon wakil kita sendiri, partai sendiri, dan pasangan menurut selera,” ujarnya.

“Mari kita bersatu. Memilih pemimpin dan wakil rakyat hanya lima tahun, sedangkan ikatan persaudaraan kita untuk selamanya. Selama Indonesia masih ada, kita masih bersaudara sebagai sesama anak bangsa,” imbuhnya.(*).