Gotong Royong Masyarakat Desa Cangkring dan Wonojati Patut Menjadi Contoh

  • Whatsapp
Bupati Jember, dr. Hj. Faida, MMR , dalam acara peresmian jembatan antar Desa Cangkring dan Wonojati, Kecamatan Jenggawah, Sabtu (30/3/2019).
Bupati Jember, dr. Hj. Faida, MMR , dalam acara peresmian jembatan antar Desa Cangkring dan Wonojati, Kecamatan Jenggawah, Sabtu (30/3/2019).

LONTARNEWS.COM. I. Jember – Kebersamaan, kegotong royongan masyarakat Desa Cangkring dan Desa Wonojati, Kecamatan Jenggawah, hingga berhasil mewujudkan jembatan penghubung patut ditiru dan dijadikan contoh. Masyarakat dua desa itu telah berhasil membangun jembatan penghubung antar-desa secara swadaya.

“Pembangunan jembatan seperti ini perlu dicontoh,” ujar Bupati Jember, dr. Hj. Faida, MMR , dalam acara peresmian jembatan antar Desa Cangkring dan Wonojati, Kecamatan Jenggawah, Sabtu (30/3/2019).

Peresmian jembatan dengan panjang 31 meter dan lebar 3,25 meter itu berlangsung cukup meriah, dengan panggung yang terbuat dari bambu. Sementara masyarakat menikmati suasana dengan berada di bawah rindangnya pepohonan khas perdesaan.

“Karena membangun desa tidak bisa sendiri-sendiri, harus ada kolaborasi. Ini (jembatan) salah satu contoh kerjasama,” ujar bupati.

Kebersamaan dan gotong royong yang ditunjukkan masyarakat inilah yang mengundang minat bupati ingin melengkapi fasilitas lain yang dibutuhkan oleh masyarakat. “Saya salut dan bangga, karena ini jembatan adalah gotong-royong masyarakat. Dananya dan cara mengerjakannya pun swadaya masyarakat,” ungkapnya.

KH Lufhfi Achmad, Pimpinan Ponpes Midinatul Ulum, Cangkring, menjelaskan, pembangunan jembatan yang menghubungkan Desa Wonojati dan Cangkring, menghabiskan biaya sebesar Rp. 280 juta. Panjang jembatan 31 meter dengan lebar 3,25 meter.

Kiai Luthfi, berharap, jembatan ini membuka isolasi masyarakat. Karena sebelumnya, kondisinya tidak bisa dilewati mobil. Bahkan becak pun sulit untuk lewat.

“Jembatan ini juga akan menjadi akses yang masuk di dalam skema pembangunan desa, karena selama ini dalam peta desa tidak tercantum jalannya, tidak ada jalan desa,” ungkapnya.

Jembatan ini diharapkan bisa masuk dalam renstra (rencana strategis) pembangunan. Sehingga, jembatan tersebut pembangunan selanjutnya masuk dalam peta desa. Begitu pula dengan jalannya, tercatat sebagai jalan desa dan mendapatkan prioritas pembangunan. (*)