Muqit Arief, Tetap Diminta Memberikan Ceramah Agama Sekalipun Sudah Menjadi Wakil Bupati

  • Whatsapp
Drs. KH Abdul Muqit Arief, Wakil Bupati Jember, saat memberi tausiah di Tabligh Akbar Grobyog Bersholawat di Dusun Grobyog, Desa Tanjungrejo, Kecamatan Wuluhan, Jumat (5/4/2019) malam
Drs. KH Abdul Muqit Arief, Wakil Bupati Jember,
saat memberi tausiah di Tabligh Akbar Grobyog Bersholawat di Dusun Grobyog, Desa Tanjungrejo, Kecamatan Wuluhan, Jumat (5/4/2019) malam

LONTARNEWS.COM. I. Jember – Bagi seorang Drs KH Muqit Arief, menjadi Wakil Bupati Jember, tidak lantas menghilangkan predikat yang sudah disandang sebelumnya. Karena itu tak heran, sekalipun saat ini suda menjadi Wakil Bupati Jember, masyarakat masih saja memintanya untuk memberikan tausiah.

Ini terjadi dalam acara Tabligh Akbar Grobyog Bersholawat yang digelar di Dusun Grobyog, Desa Tanjungrejo, Kecamatan Wuluhan, Jumat (5/4/2019) malam. Drs. KH Abdul Muqit Arief, yang sudah menjadi Wakil Bupati Jember, didaulat menjadi penceramah tunggal dalam acara Tabligh Akbar Grobyog Bersholawat itu. “Biasanya, saya cuma memberi sambutan saja. Tapi ini diminta ceramah juga,” kata Wabup Muqit Arief.

Ada dua topik yang disampaikan wabup dalam acara itu. Pertama, soal kewajiban muslim memilih seorang pemimpin. Serta topik Kedua nengenai sholat.

Topik pertama dilatar belakangi situasi saat ini yang menjelang pemungutan suara tanggal 17 April 2109. Pengasuh pondok pesantren Al Falah Kecamatan Silo ini menyatakan, memilih dalam pemilu bukan hanya menjadi program pemerintah maupun KPU saja.

Sebab, dalam ajaran agama ada¬†anjuran untuk memilih pemimpin. Bukankah kalau kita berjalan dua orang, kita dianjurkan untuk memilih siapa yang menjadi pemimpinnya, ujarnya. ” Apalagi Indonesia yang besar dengan jumlah penduduk lebih 240 juta,” imbuh wabup.

Wabup juga menyampaikan rasa syukurnya atas situasi yang tetap aman menjelang pemungutan suara. Panasnya hanya di medsos. Alhamdulillah, di tengah-tengah masyarakat tetap tentram, tuturnya.

Untuk lebih mempererat rasa persaudaraan itu, wabup mengajak semua pihak menjadikan masjid sebagai tempat perekat ukhuwah islamiyah. Wabup meminta masjid tidak menjadi tempat politik praktis. “Jangan menghilangkan fungsi masjid yang telah kita usahakan bersama,”ungkapnya.

Pada topik kedua tentang sholat, Wabup mengungkapkan, dari sekian kewajiban yang dibebankan di pundak manusia, sholat merupakan kewajiban utama. “Tugas kita hidup di dunia ini untuk beribadah kepada Allah SWT,” ujarnya sembari menyitir sebuah ayat dalam Al Quran.

Pun demikian dengan sekian amal perbuatan yang dilakukan di dunia, sholat merupakan amal yang ditanyakan terlebih dahulu ketika sudah di akhirat. Sebagai kewajiban yang paling mendasar, sholat harus sudah dikenalkan kepada anak saat usia menginjak tujuh tahun dan semakin dipertegas saat anak berusia sepuluh tahun.

Terkait anak-anak yang menjalankan sholat, wabup berpesan khusus kepada takmir masjid dan jamaah agar tidak berlaku keras ketika mereka ramai dalam sholat berjamaah di masjid. “Kalau kita keras kepada mereka, di benak mereka akan tertanam bahwa masjid bukan tempat yang menyenangkan untuk didatangi,” tuturnya.

Untuk menghindari kekerasan itu, wabup menyarankan agar melayani anak-anak yang sedang belajar menjalankan sholat tersebut.
“Bikin mereka senang di masjid. Kalau bisa diberi manisan agar senang datang ke masjid untuk sholat berjamaah,” ujar wabup.(*).