Pagelaran Wayang Kulit 1 Suroan, Pilih Cerita “Amarta Binangun” Karena Kesesuaian dengan Kondisi Jember

  • Whatsapp
Pagelaran wayang kulit dengan lakon "Amarta Binangun" atau "Puntodewo Wisudo", bersama dalang Ki Andik dari Semboro dan sinden kondang Mbak Wiwit Diqin di alun-alun Jember, Minggu (01/09/2019).
Pagelaran wayang kulit dengan lakon “Amarta Binangun” atau “Puntodewo Wisudo”, bersama dalang Ki Andik dari Semboro dan sinden kondang Mbak Wiwit Diqin di alun-alun Jember, Minggu (01/09/2019).

LONTARNEWS.COM. I. Jember – Dalam rangka menyambut dan memeriahkan tahun baru Jawa, 1 Suro Dal 1954, Pemerintah Kabupaten Jember menggelar pagelaran wayang kulit semalam suntuk. Pagelaran wayang kulit dengan lakon “Amarta Binangun” atau “Puntodewo Wisudo”, ini dimainkan dalang Ki Andik dari Semboro dan sinden kondang Mbak Wiwit Diqin.

Cerita wayang tentang membangun Kerajaan Amarta ini, sengaja dipilih karena kesesuaian dengan kondisi Kabupaten Jember saat ini. “Kesesuaian ini karena Bupati Jember dan Wakil Bupati Jember menjadi pemimpin dengan segala programnya,” ujar Kepala Bakesbangpol Jember, Drs Bambang Haryono, yang hadir mewakili Bupati Jember, dr. Hj. Faida, MMR, dalam acara pagelaran wayang kulit yang digelar di alun-alun Jember, Minggu (01/09/2019).

Dalam sambutan yang dibacakan Bambang, Bupati menyampaikan, bahwa pagelaran ini sebagai upaya melestarikan bangsa dan melestarikan budaya daerah kepada generasi penerus bangsa. “Kegiatan ini adalah salah satu upaya untuk melestarikan budaya asli Indonesia di tengah mengalirnya budaya asing atau globalisasi, mengenalkan dan menanamkan budaya daerah kepada masyarakat, khususnya generasi muda,” kata bupati.

Keberagaman kebudayaan Indonesia, salah satunya adalah wayang kulit, keberadaannya haruslah tetap dilestarikan. Karena itu,
pagelaran ini diharapkan dapat memotivasi generasi muda untuk sungguh-sungguh menyayangi budaya daerah, hingga kebudayaan Indonesia akan tetap terjaga.

Kegiatan seni budaya ini juga sebagai media pemersatu. Selain juga sebagai upaya untuk menyaring budaya asing yang mempengaruhi generasi muda. “Pagelaran wayang kulit ini untuk mengimplementasikan niat bersama dalam mewariskan budaya luhur wewayangan kepada generasi muda,” jelasnya.

Lebih jauh dikatakan, bahwa pagelaran wayang kulit kali ini menjadi sebuah kesinambungan dan transfer kepiawaian segala aspek pagelaran wayang dari dalang sepuh kepada dalang remaja. Pendekatan dan metode yang dipakai, menyesuaikan dengan generasi muda, sehingga generasi muda akan tetap mencintai, memelihara, dan membudayakan seni budaya Indonesia.

Mengenai pemilihan cerita “Amarto Binangun” yang dikatakannya karena kesesuaian dengan kondisi Jember saat ini, dijelaskan, bisa dilihat dari salah satu program untuk meningkatkan kualitas dumber daya manusia yang dilaksanakan Bupati dan Wakil Bupati Jember. Program tersebut, adalah pemberian beasiswa perguruan tinggi khusus masyarakat ber-KTP Jember dan insentif guru ngaji, serta program lainnya.

Bupati berharap, pagelaran wayang kulit yang dihelat di jantung kota Jember, alun-alun ini, diikuti oleh anak-anak. Keikutsertaan anak-anak untuk menikmati pagelaran ini dinilai penting, karena cerita yang ada dalam wayang kulit memiliki filosofi yang tinggi. “Anak-anak harus tahu, budaya kita juga mempunyai superhero, yaitu Gatot Koco,” imbuhnya.

Cerita Amarta Binangun atau Puntodewo Wisudo, lanjutnya, adalah kisah Pandawa membangun Kerajaan Amarta sepeninggal ayah mereka Prabu Pandu Dewanata. Pandawa menuntut hak mereka kepada penguasa Astina, Prabu Destharata , yang kemudian mengizinkan kepada Pandhawa untuk terlebih dahulu membuka hutan atau babad alas Wismartha.

Usaha membuka hutan ini tidaklah mudah, karena Pandhawa masih harus menghadapi ujian dan cobaan, baik dari pihak luar ataupun konflik diantara mereka sendiri. Namun berkat kegigihan dan usaha yang keras, mereka berhasil membangun kerajaan Amartha sesuai harapan.(*)