Kepemimpinan Relegius dan Nasionalis, Harus Oahami NKRI, Bhineka Tunggal Ika dan Pancasila

  • Whatsapp
Wakil Bupati Jember Drs. KH Abdul Muqit Arief, menyalami peserta, usai menjadi pemateri pada acara Bimtek/Pembekalan Kepala Desa Kabupaten Jember 2019 di Pendopo Wahya Wibawagraha, Jumat (25/10 2019).
Wakil Bupati Jember Drs. KH Abdul Muqit Arief, menyalami peserta, usai menjadi pemateri pada acara Bimtek/Pembekalan Kepala Desa Kabupaten Jember 2019 di Pendopo Wahya Wibawagraha, Jumat (25/10 2019).

LONTARNEWS.COM. I. Jember – Kepemimpinan yang relegius dan nasionalis adalah yang segala aktifitasnya hanya untuk mendapatkan ridho Alloh SWT serta memahami tentang NKRI, Bhinneka Tunggal Ika, dan Pancasila. Demikian pula pada segala kegiatan atau aktifitas dalam kepemimpinannya diberi nilai-nilai keagamaan.

”Jangan sampai nanti membenturkan antara negara dengan agama, membenturkan antara nasionalisme dengan agama,” pesan Wakil Bupati Jember Drs. KH Abdul Muqit Arief, saat menjadi pemateri pada acara Bimtek/Pembekalan Kepala Desa Kabupaten Jember 2019 di Pendopo Wahya Wibawagraha, Jumat (25/10 2019).

Negara dan agama, menurut Wabup, tidak perlu dibenturkan, karena satu sama lain saling menguatkan. “Pancasila memang bukan agama. Tetapi semua yang ada dalam Pancasila, tidak satupun yang bertentangan dengan nilai-nilai agama,” terang Wabup Muqit Arief.

Wabup berharap, semua pemimpin harus paham hal ini, karena adanya kelompok yang berupaya membentuk radikalisme. “Jangan sampai ini terjadi di Jember,” kata Wabup.

Tentang potensi ekonomi di desa, Wabup berpesan agar mengelolanya untuk menggeliatkan pembangunan. Demikian halnya dalam masalah politik, utamanya usai pelaksanaan pilkades, para kepala desa yang baru saja dilantik diimbau untuk merangkul semua pihak.

Termasuk juga mereka yang pada kontestasi pilkades menjadi lawan politiknya. “Seorang kepala desa sebagai seorang pimpinan, bisa dikatakan sebagai pemimpin sejati manakala mereka merangkul semua pihak, tidak terkecuali lawan politiknya,” papar Wabup.

Merangkul semua pihak untuk diajak bersama-sama membangun desa menjadi barometer keberhasilan bagi seorang kepala desa dalam memimpin. “Apabila para kepala desa terpilih ini datang ke lawan politiknya, saya yakin pihak yang kalah sekalipun niatnya sama, yaitu membangun desanya masing-masing,” jelasnya.

Oleh karenanya, wabup berpesab, agar para kepala desa terpilih bisa datang ke mantan lawan politiknya, apa yang menjadi keinginan dari calon yang tidak beruntung dalam pilkades itu. “Sehingga bisa didengarkan dan dilaksanakan bersama-sama,” terang Wabup Muqit Arief, yang pada acara bimtek dan pembekalan cakades terpilih, sekaligus sebagai penutup kegiatan yang berlangsung selama dua hari itu.

Sementara itu, Plt. Kepala Dispemasdes, Dr. Edi Budi Susilo, M.Si. menambahkan, bahwa dalam memimpin bisa menggunakan prinsip tutwuri handayani. Yakni memberi semangat dan mendorong warga agar dapat ikut berpartisipasi. “Itu tutwuri handayani. Semoga sukses, selamat bekerja,” imbuh Edi Budi Susilo. (*).