Pesantren Mendapat Perhatian Khusus Pencegahan Covid-19

  • Whatsapp
Wakil Bupati Jember, Drs KH A Muqit Arief, bersama Dandim 0824, Letkol Inf. La Ode M. Nurdin, melakukan penyemprotan disinfektan di Pondok Al Falah, Karangharjo, Kecamatan Silo, Sabtu (21/03/2020).
Wakil Bupati Jember, Drs KH A Muqit Arief, bersama Dandim 0824, Letkol Inf. La Ode M. Nurdin, melakukan penyemprotan disinfektan di Pondok Al Falah, Karangharjo, Kecamatan Silo, Sabtu (21/03/2020).

LONTARNEWS.COM. I. Jember – Pesantren sebagai tempat menimba ilmu agama, harus mendapat perhatian khusus dalam pencegahan penyebaran virus corona (Covid-19). Karena santri yang menimba ilmu di pesantren hidup berkelompok dalam jumlah besar.

“Santrinya harus diberi wawasan tentang bagaimana menyikapi Covid-19,” terang Wakil Bupati Jember, Drs. KH. A. Muqit Arief, di Pondok Pesantren Al Falah, Desa Karangharjo, Kecamatan Silo, Sabtu (21/03/2020)

Upaya mencegah penyebaran Covid-19 di pondok pesantren ini dilakukan dengan menyemprotkan disinfektan. Penyemprotan dilakukan serentak di 600 pesantren yang ada di Kabupaten Jember.

“Ini merupakan awal dari penanggulangan Covid-19 yang secara khusus menyasar ke pondok pesantren,” kata Wabup Muqit Arief.

Pembersihan virus di area pesantren dilakukan di musholla (masjid), ruang santri, ruang kelas, dan sekitarnya. Termasuk kediaman para pengasuh pesantren.

Diungkapkan wabup, Dinas Kesehatan Kabupaten Jember memberikan arahan agar pihak pondok melakukan penyemprotan disinfektan secara mandiri. Kemandirian itu diperlukan karena tenaga di Dinkes terbatas, sedang jumlah pesantren mencapai ratusan.

Pola hidup sehat dan menjaga kebersihan, lanjut wabup, menjadi kunci utama untuk mengantisipasi penyebaran virus dan jatuhnya korban. “Alhamdulillah, Jember masih nol,” ungkap Wabup Muqit Arief, yang juga pengasuh Ponpes Al Falah ini.

Kepada pimpinan ponpes di Jember, wabup berharap untuk memahami betapa situasi dan kondisi sekarang dalam keadaan gawat darurat. Sampai saat ini, orang yang terpapar Covid-18 di seluruh Indonesia sudah sekitar 360 dan meninggal dunia 27 orang.

Persentasenya menjadi negara dengan tingkat kematian tertinggi di seluruh dunia. “Para pemimpin pesantren diharapkan dapat menjadi corong untuk menjadi penyambung lidah, bagaimana para santri dan masyatakat bisa memahami kondisi ini dan bisa melakukan langkah untuk mengantisipasi,” harapnya.