Imbauan Agar Santri Tidak Pulang Kampung Harus Diimbangi dengan Upaya Menjenguk Keberadaannya di Ponpes

  • Whatsapp

LONTARNEWS.COM. I. Jember – Kepatuhan santri terhadap imbauan pemerintah untuk tidak pulang kampung demi mencegah penularan dan penyebaran Covid-19, haruslah diimbangi dengan upaya menjenguk keberadaan para santri di pondok pesantrennya. “Jangan sampai dilarang mudik, kemudian tidak dijenguk,” ujar Wakil Bupati Jember, Drs. KH. A. Muqit Arief, dalam acara melanjutkan penyaluran bantuan kepada santri yang tidak pulang kampung di Pondok Pesantren Assuniyah, Kecamatan Kencong, Rabu (27/05/2020).

Penyaluran bantuan kepada santri yang tidak pulang kampung oleh Wabup Muqit Arief ini, merupakan kelanjutan dari kegiatan sebelumnya. Seperti pada penyaluran bantuan sebelumnya, kegiatan kali ini, selain santri pemberian bantuan juga dilakukan kepada warga cacat berat.

“Harus kita sambangi, karena bagaimana pun negara harus hadir dalam hal semacam ini,” tandas Wabup Muqit Arief, kepada wartawan.

Pada kesempatan itu, wabup juga menyampaikan, bahwa bantuan sembako dan uang yang diberikan sebagai bentuk ucapan terima kasih dari pemerintah. “Kami berharap semua santri dalam keadaan sehat walafiat,” harapnya.

Selain menjenguk para santri, wabup juga menjenguk beberapa warga yang dalam kondisi cacat berat sekaligus memberikan bantuan sembako dan uang. Bantuan yang diberikan berupa alat kesehatan, seperti kursi roda.

Disampaikan wabup, ada hal yang lebih penting dari bantuan yang diberikan oleh pemerintah, yaitu menyikapi persebaran Covid-19. “Kami sangat berharap kepada para santri dan masyarakat umum untuk membiasakan hidup sehat, agar tidak terjadi penambahan warga yang terpapar Covid-19,” pintanya.

Dikatakannya, bahwa kondisi Covid-19 tergantung pada kesadaran masyarakat. Apabila masyarakat bisa mengikuti protokol kesehatan, dengan sendirinya jumlah warga terpapar bisa stagnan atau bahkan menurun.

Sementara berdasarkan data dari Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Sekretariat Kabupaten Jember disebutkan, santri yang tidak pulang kampung saat lebaran tahun ini tercatat sebanyak 2.674 orang. Selain berasal dari Kabupaten Jember sendiri, para santri tersebut juga ada yang dari luar daerah.

Santri yang berasal dari Jember berjumlah 881 orang, tersebar di 16 kecamatan. Terbanyak berada di Kecamatan Umbulsari sejumlah 221 santri. Kemudian Bangsalsari 128 santri, dan Kaliwates 104 santri.

Santri yang berasal dari luar Kabupaten Jember terbagi menjadi dua. Pertama, santri yang berasal dari dalam negeri berjumlah 1.781 orang. Kedua, santri yang berasal dari luar negeri sebanyak 10 orang.

Santri dari dalam negeri yang tidak pulang kampung terbanyak di Kecamatan Wuluhan sejumlah 437 santri. Menyusul Kecamatan Sumbersari sejumlah 200 santri dan Kecamatan Ambulu sebanyak 188 santri.

Untuk santri dalam negeri yang berasal dari Provinsi Jawa Timur, terbanyak berasal dari Kabupaten Banyuwangi sejumlah 327 orang. Berikutnya dari Kabupaten Bondowoso, 141 santri dan Kabupaten Lumajang sejumlah 136 santri.

Di luar Provinsi Jawa Timur, santri yang masih bertahan di pesantren pada situasi Covid-19 terbanyak berasal dari Kabupaten Kebumen sejumlah 123 santri. Disusul Cilacap sejumlah 73 santri, dan Denpasar sebanyak 51 santri.

Sedang sepuluh santri dari luar negeri berasal dari empat negara. Kamboja tercatat 6 santri, Malaysia sejumlah 2 santri. Kemudian Saudi Arabia dan Turki masing-masing satu orang.

Sepuluh santri tersebut berada di lima kecamatan. Yaitu di Kecamatan Sumbersari sejumlah 6 santri, kemudian di Arjasa, Jombang, Panti, dan Wuluhan masing-masing satu santri.(*)