Peneliti CWI, Pengalaman dalam Bernegosiasi dengan Publik, Perempuan Sebagai Pemimpin Tidak Mudah Tunduk Kepentingan Politik

Spread the love

Bupati Jember, dr. Faida. MMR, saat diwawancarai Ketua Cakra Wikara Indonesia (CWI), Anna Margret, di Pendopo Wahya Wibawagraha, Rabu (24/06/2020).

Jember.LONTARNEWS.COM. – Ketua Cakra Wikara Indonesia (CWI), Anna Margret, mengatakan, pengalaman dalam bernegosiasi dengan publik membuat perempuan sebagai pemimpin tidak mudah tunduk oleh kepentingan-kepentingan politik. “Karena jadi punya rumusan tujuan yang jelas, punya rumusan rencana yang jelas,” ujar Anna Margaret, kepada wartawan usai mewawancarai Bupati Jember, dr. Faida. MMR, di Pendopo Wahya Wibawagraha, Rabu (24/06/2020).

Wawancara dengan Bupati Faida oleh Anna Margret, dimaksudkan untuk penelitian yang ditujukan mendorong peningkatan pencalonan perempuan dalam pemilihan kepala daerah. Selain juga mendorong semakin kuatnya kepemimpinan perempuan di pemerintahan daerah.

Dikatakan, perempuan pemimpin yang memiliki kemampuan bernegosiasi dengan publik memiliki dukungan-dukungan lintas partai politik serta dukungan gerakan masyarakat sipil. “Saya pikir, justru ada keluwesan yang jadi khas kepemimpinan perempuan,” ungkap Anna Margret, yang juga dosen FISIP Universitas Indonesia itu.

Sementara mengenai keterlibatan perempuan pada pencalonan kepala daerah dengan legislatatif, menurut Anna, memiliki perbedaan. Di legislatif maupun partai, ada kuota perempuan. Demikian juga pada pemilihan penyelenggara pemilu, Bawaslu dan KPU, yang mensyarakatkan 30 persen keterwakilan perempuan.

Selama ini, pemberitaan tentang kepemimpinan perempuan menurut Anna, masih bias gender. Semestinya, penilaian lebih berdasar pada latar belakangnya, apakah dari birokrat ataukah profesional seperti dr. Faida.

Bupati Faida, menurutnya, adalah perempuan yang mencalonkan langsung berhasil menduduki pimpinan kepala daerah. Sebagai Bupati Jember, kepemimpinan dr. Faida dinilainya juga memiliki kekhasan, yakni keberpihakan kepada kaum marjinal.

“Justru keberpihakan kepada kelompok marjinal itu menjadi sangat penting. Itu menjadi khas,” tandasnya.

Kekhasan ini bisa dilihat dari pemberian perhatian kepada kehidupan masyarakat kelas bawah. “Orientasi atau prioritas untuk kesejahteraan, isu-isu kesejahteraan sangat jelas menjadi prioritas,” terang Anna Margret saat ditanya wartawan soal ciri khas yang ditemui pada diri Bupati Jember, dr. Faida, MMR.(*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *