Sejak Dihapuskannya Pelajaran PMP, Bangsa Ini Seolah Tidak Memiliki Arah

Spread the love

Wakil Bupati Jember, Drs KH A Muqit Arief, saat mengikuti sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang digekar APKASI, didampingi Asisten Pemerintahan, Arif Tjahyono, Kepala Bakesbangpol, Bambang Hariono, Kepala Satpol PP, Suprapto dan Kabag Tata Pemerintahan, Rachman Hidayat, Rabu (08/07/2020).

Jember.LONTARNEWS.COM. wabup menilai perlu Sosialisasi tentang nilai-nilai kebangsaan sangat perlu dilakukan, khususnya untuk kalangan muda sebagai generasi penerus. Hanya saja, sosialisasi yang dilakukan dengan cara-cara terkini yang banyak disukai pemuda.

“Sehingga sosialisasi bisa diterima oleh generasi muda,” ujar Wakil Bupati Jember, Drs KH A Muqit Arief, usai mengikuti sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang digelar Asosiasi Pemerintah Kabupaten/Kota Seluruh Indonesia (APKASI), di ruang kerjanya, Rabu (08/07/2020).

Menyosialisasikan Pancasila pada generasi muda saat ini, menurut wabup tidaklah mudah, selain tantangannya juga banyak. Karena di sekolah, saat ini sudah tidak ada lagi pelajaran Pancasila.

Karena itu, untuk sosialisasinya harus dilakukan dengan cara-cara yang tidak baku. Misalnya kewat seminar virtual, outbond, perlombaan dan cara lain yang disukai anak muda.

“Sejak dibubarkannya BP7, kemudian dihapuskannya pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila), itu sudah mulai terasa. Kita seolah-olah tidak memiliki arah akan dibawa kemana bangsa ini,” tukas wabup.

Dikatakan, bahwa sosialisasi tentang nilai-nilai kebangsaan harus tetap dijalankan, meski kondisi saat ini pandemi wabah Covid-19. “Kita tidak boleh lengah. Sosialisasi tentang nilai-nilai kebangsaan harus tetap dilakukan. Semua pihak harus ikut menyosialisasikan. Oleh siapapun,” tegasnya.

Hanya saja, sebelum dilakukan sosialisasi, disarankan, semua pihak, utamanya para pemimpin, hendaknya memberikan contoh tentang nilai-nilai kebangsaan. “Keteladanan dalam banyak hal itu harus. Karena itu, sebelum sosialisasi, kita harus memulai dari diri sendiri, khususnya sebagai pemimpin di level apapun,” ujarnya.

Selain sosialisasi, yang tidak kalah pentingnya lagi adalah tindakan. Bukan sekedar tulisan maupun ucapan. (*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *