Wabup Jember, Pengembalian SOTK 2016 Agar Tidak Ada Beban PR Bagi Bupati Jember Setelah Pilbup

Wakil Bupati Jember, Drs KH Muqit Arief, saat memberikan pengarahan kepada para pendukungnya di depan kantor Pemkab Jember, Selasa (22/12/2020)
Wakil Bupati Jember, Drs KH Muqit Arief, saat memberikan pengarahan kepada para pendukungnya di depan kantor Pemkab Jember, Selasa (22/12/2020)

Jember.LONTARNEWS.COM. Kian memanasnya situasi politik di Jember menyusul terus mengalirnya dukungan masyarakat kepada Wakil Bupati Jember, Drs KH Muqit Arief, yang dinilai telah dipojokkan karena melakukan pengembalian SOTK (Struktur Organisasi dan Tata Kerja) tahun 2016, memaksa Kiai Muqit harus turun sendiri menghadapi massa yang memberikan dukungan moril kepada dirinya. Kepada ribuan massa yang menggelar aksi dukungan di depan kantor Pemkab Jember, Kiai Muqit (sapaan KH Muqit Arief), menyeru agar semuanya bersikap tenang dan sabar.

“Kalau penjenengan sayang kepada saya, kalau penjenengan cinta kepada saya, maka ikutilah ketetapan yang saya ambil. Jadi oleh karena itulah, mari tretan sedejeh (saudara semua, red), dengan kepala dingin, dengan penuh kesabaran, inshaa Allah segala sesuatunya akan selesai pada saatnya. Kami mohon kesabaran kepada semuanya,” imbau Wabup Muqit Arief, Selasa (22/12/2020).

Dengan sangat bijak, Kiai Muqit menyatakan, bahwa dirinya memahami apa yang dirasakan para peserta aksi. Namun begitu Kiai Muqit tetap merasa perlu untuk menyampaikan persoalan yang tengah terjadi.

“Kami paham perasaan panjenengan semuanya, kami sangat paham. Tapi inshaa Allah yang terpenting bukan persoalan macem-macem, tapi Jember ke depan menjadi lebih baik,” tandasnya.

Pengembalian SOTK tahun 2016, lanjutnya, semata-mata untuk kepentingan Jember dalam artian luas dan tidak ada niatan lain. “Saya mengembalikan SOTK itu tidak ada niatan lain, selain perintah dari menteri dalam negeri. Saya berpikir, siapapun yang menjadi bupati Jember setelah pilbup, tidak ada lagi beban, tidak ada PR (pekerjaan rumah) yang akan dilaksanakan,” paparnya (*).