Halal Bihalal, Tradisi Saling Memberi Maaf di Hari Lebaran yang Bermula dari Sungkeman! Beginilah Awal Kisahnya!

Sungkeman merupakan budaya orang Jawa sebagai bentuk penghormatan kepada orang tua, orang yang lebih tua atau tokoh yang dituakan/ditokohkan dan dihormati. Tradisi Sungkeman ini dianggap sebagai cikal bakal dari kegiatan halal bihalal yang biasa dilakukan umat Islam sehabis menunaikan shalat id.

Mengingat pihak Kolonial Belanda ketika itu selalu mencurigai setiap kegiatan pertemuan yang digelar masyarakat, dengan selalu menganggapnya sebagai kegiatan terselubung untuk melawan pemerintah.

Menurut kisahnya, dalam sebuah prosesi sungkeman yang digelar di Gedung Habipraya, Singosaren, saat Lebaran tahun 1930, Belanda nyaris menangkap dr. R. Radjiman Widyodiningrat dan Ir. Soekarno yang merupakan dokter pribadi Sampeandalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan (S.I.S.K.S.) Pakubuwono (PB) X, Raja Keraton Surakarta.

Bacaan Lainnya

Sontak saja, PB X yang kala itu juga berada di lokasi acara, langsung menjawab bahwa kegiatan itu bukan aksi penggalangan masa, tapi halal bihalal (sungkeman) dalam rangka merayakan Lebaran.

Dari peristiwa ini, tradisi sungkeman yang semula merupakan kegiatan berkumpulnya para punggawa untuk menghadap sekaligus memberi hormat kepada raja usai shalat id, oleh PB X akhirnya dirubah menjadi kegiatan silaturahmi terbuka, seperti open house yang digelar banyak pejabat atau tokoh masyarakat di masa sekarang.[*]

Pos terkait