Pompeii, Kota Maksiat Zaman Romawi Musnah Hanya Dalam Hitungan Menit

Pompeii sebuah kota zaman Romawi kuno, dekat kota Napoli, sekarang berada di wilayah Campania, Italia. Pompeii hancur oleh letusan gunung Vesuvius pada 24 Agustus 79 Masehi. Penduduk dan seluruh bangunan yang ada di kota Pompeii musnah terkubur

LONTARNEWS.COM. Berkat aktifitas yang dilakukan sekelompok penjelajah yang mencari timbunan artefak kuno di Campania, Italia, pada tahun 1748, kota kuno Pompeii yang musnah karena letusan Gunung Vesuvius berhasil ditemukan kembali.

Penjelajah artefak itu berhasil menemukan bekas kota kuno Romawi didasar lautan. Saat ditemukan, penghuni kota kuno yang dikenal dengan nama Pompeii, itu masih terlihat utuh, meski sudah membatu.

Bacaan Lainnya

Pompeii tenggelam akibat erupsi dahsyat Gunung Vesuvius yang terjadi pada tahun 79 Masehi. Erupsi Gunung Vesuvius, itu telah mengakibatkan Kota Pompeii, terkubur dan tenggelam ke dasar laut.

Peristiwa dahsyatnya letusan Gunung Vesuvius di Italia, sampai saat ini masih menjadi pembahasan dan dipelajari.

Dari sejumlah temuan tercatat, akibat yang ditimbulkan dari letusan dahsyat gunung Vesuvius pada 79 Masehi, menyebabkan penduduk dan seluruh bangunan yang ada di kota Pompeii terkubur.

Diperkirakan sekitar 2.000 orang di Kota Pompeii tewas, hanya sebagian kecil yang bisa melarikan diri dari kepungan lahar Vesuvius.

Awan abu dan gas beracun yang dimuntahkan Gunung Vesuvius dianggap sebagai penyebab tewasnya ribuan penduduk di kota Pompeii ketika itu.

Berdasarkan studi terbaru terhadap peristiwa bencana maha dahsyat yang terjadi di dekat kota Napoli, sekarang di wilayah Campania, Italia, pada awal abad masehi ini, diketahui, penyebab tewasnya penduduk kota Romawi kuno itu karena sesak napas oleh gas dan abu vulkanik.

Mereka tewas terkubur oleh material-material vulkanik, dan baru ditemukan pada tahun 1748 dalam keadaan sudah membatu.

Dari hasil penelitian para peneliti yang mencoba mengungkapkan durasi dari aliran piroklastik dan gas panas yang melanda kota Pompeii, diketahui, beberapa menit setelah gunung tersebut meletus, awan mematikan memiliki suhu lebih dari 100⁰ derajat, terdiri dari CO2, klorida, partikel abu pijar dan kaca vulkanik.

Pos terkait