Taman Gantung Babylon, Bukti Ketulusan Cinta Seorang Kaisar

Selama masa pemerintahannya Kaisar Nebukadnesar II (626-539 SM), membangun tiga istana besar. Masing-masing dari istana itu dihiasi mewah, menggunakan ubin kaca berwarna biru dan kuning. Nebukadnesar juga membangun Taman Gantung, yakni bangunan bertingkat, yang dilengkapi semak tanaman, aneka warna bunga, dan air terjun buatan. Foto bekas istana Kaisar Nebukadnesar

LONTARNEWS.COM. Taman Gantung Babylon, Bukti Kesetiaan Cinta Seorang Kaisar. Banyak yang meyakini, letak dari Taman Gantung Babylon (Babilonia) berada di tepi Sungai Euphrates, sebelah selatan Kota Baghdad, Irak.

Panjang dan lebar Taman Gantung Babylon, menurut sejarawan Yunani, Diordorus Siculus, lebih kurang 122 meter, ada yang menyebut luasnya 4 are (1 acre = 4046.86 m²).

Bacaan Lainnya

Taman Gantung Babylon atau juga dikenal dengan sebutan Taman Gantung Semiramis beserta Tembok-tembok Babylon, merupakan salah satu dari 7 Keajaiban Dunia.

Bangunan kuno ini terletak di kota Al-Hillah, 50 kilometer selatan Baghdad, Irak atau tepatnya di tebing sebelah timur Sungai Euphrates.

Penyebutan Taman Gantung berasal dari terjemahan bahasa Yunani, Kremastos atau kata Latin, Pensilis, yang bermakna tidak hanya “tergantung” tetapi juga berarti “anjung,” seperti terletak di atas beranda atau suatu teras.

Penamaan Taman Gantung menggambarkan tanaman yang tergantung di bagian atas taman. Taman Gantung diperkirakan dibangun pada sekitar tahun 600 SM.

Referensi tekstual yang secara khusus mengidentifikasi Taman Gantung Babylon berasal dari catatan seorang sejarawan sekaligus pendeta di Babylonia, Berossus, yang hidup pada masa Aleksander Agung.

Berossus merupakan salah satu tokoh, selain Herodotus, yang mempelajari tentang daftar nama raja yang tertulis di dinding-dinding prasasti pada kuil di Babilonia.

Dari catatan Berossus, sejarawan Babylonia, yang disimpan seorang sejarawan dan penulis dari Romawi, Flavius Yosefus (sekitar 37 M-100 M), diketahui, Taman Gantung Babylon yang menjadi legenda dunia, merupakan karya Nebukadnezar II, Kaisar Babylonia Baru.

Pos terkait