Inilah Tokoh Kemerdekaan yang Menyusun Kalimat “Bahwa Sesungguhnya Kemerdekaan Itu ialah……!”

Ahmad Soebardjo terlahir dengan nama Raden Ahmad Soebardjo Djojoadisoerjo pada 23 Maret 1896, dan meninggal pada 15 Desember 1978. Ia seorang sarjana hukum dan tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia juga Menteri Luar Negeri Indonesia yang pertama. Ahmad Soebardjo merupakan anggota BPUPKI yang berperan menyumbangkan berbagai pemikirannya dalam menyusun dasar negara bagi Indonesia merdeka

LONTARNEWS.COM. Pada alinea pertama Pembukaan Undang Undang Dasar 1945 tertulis, “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan
dan perikeadilan…..

Rangkaian kalimat yang tersusun dalam alinea pertama UUD 1945, itu terkandung makna, bahwa penjajahan dalam bentuk apapun, tidak bisa dibenarkan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Bacaan Lainnya

Oleh karenanya penjajahan harus dihapuskan, agar semua bangsa di dunia dapat menentukan nasibnya sendiri, merdeka dari segala bentuk penindasan dan pembelengguan
hak-hak kemanusiaan.

Kalimat di atas yang tertera dalam pembukaan UUD 1945, itu ditulis oleh tokoh kemerdekaan yang tengah mempersiapkan berdirinya negara yang bernama Indonesia.

Peristiwa penulisan naskah yang di kemudian menjadi kalimat pembuka dari UUD 1945, itu terjadi di tengah diskusi tiga orang sarjana hukum lulusan universitas di Belanda yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Tiga orang lelaki yang tampak begitu serius berdiskusi di sebuah gedung di kawasan Cikini, Jakarta itu, terlihat juga sibuk mencoret-coret kertas di atas meja yang ada di depannya.

Beberapa saat kemudian, salah satu dari ketiga laki-laki sarjana hukum itu tiba-tiba berdiri dan berucap “Akhirnya selesai juga naskah ini.” ujarnya.

Mendengar ucapan itu, dua laki-laki lainnya yang sejak dari awal juga menuangkan coretannya di atas kertas seketika bertanya.

“Coba kami lihat dulu naskah yang telah dituliskan itu,” pinta salah seorang dari dua laki-laki yang ternyata bernama Alexander Andries (A.A) Maramis itu.

Sejenak kemudian, A.A Maramis dan temannya yang bernama Soepomo, itu memeriksa ulang naskah yang telah disusun temannya tersebut.

Pos terkait