Kategori
Infrastruktur

Meski Kiosnya Gratis, Retribusi Tetap Harus Bayar

Bupati Jember, dr. Faida. MMR, saat meninjau Pasar Mangli, Sabtu (4/5/2019)

LONTARNEWS.COM. I. Jember – Meski untuk mendapatkan kios tidak perlu mengeluarkan biaya, namun untuk kewajiban retribusinya, pedagang harus bayar. Jika tidak, maka kepada oedang yang tidak mau bayar retribusi, akan dikenakan sanksi.

Kios yang dipergunakan pedagang untuk jualan itu merupakan aset pemerintah. Demikian ditegaskan Bupati Jember dr. Hj. Faida, MMR, saat acara Syukuran Nganyari Pasar, di Aula PB Sudirman, hari Sabtu (4/5/2019).

“Semuanya nanti teken, bahwa memahami kios-kios ini bukanlah milik pribadi, tetapi aset Pemerintah Kabupaten Jember yang dipinjam dan digunakan oleh para pedagang,” ungkap bupati.

Di hadapan pedagang di tiga pasar yang hadir dalam acara Syukuran Nganyari Pasar, bupati mengungkapkan bahwa kios-kios itu dibangun menggunakan dana dari APBD Kabupaten Jember.

Karena itu, sebagai bukti legalitas pemakaian kios, setiap pedagang mendapatkan barcode yang bisa menyimpan identitas dan bisa digunakan untuk membayar retribusi. “Sekarang sudah jaman modern, retribusinya pakai kartu,” terang bupati

Masa berlaku kartu paling lama tiga tahun. Kartu ini bukan identitas kepemilikan, tetapi hanya merupakan keterangan pemakaian.

Apabila tidak membayar retribusi selama tiga bulan maka sanksinya adalah pencabutan hak pemakaian atau dipindahtangankan kepada orang lain. Pedagang juga harus mengikuti ketentuan membuang sampah untuk tetap menjaga kebersihan pasar.

Terkait tiga Pasar Kreongan, Geban, dan Mangli yang sudah direhab, dikatakan memiliki kekhasan sendiri-sendiri. Di pasar Mangli paling banyak pedagang perancangan dan pedagang sayur.

Sedang di pasar Gebang paling banyak pasar hidup dan sayuran. Sementara di Kreongan paling banyak perancangan dan daging. “Dengan usia pedagang, di tiga pasar ini terdapat pedagang dengan usia produktif, tetapi juga ada pedagang lanjut usia diatas 60 tahun,” terangnya.

Sebagai makhluk sosial, bupati mengajak para pedagang untuk bisa hidup secara bersama-sama. Menjual barang dagangan dengan bagus, tapi tidak membeli dari petani dengan harga sangat murah agar petani juga dapat hidup sejahtera. “Wis ditawar, kadang masih hutang,” canda bupati.

Mengenai omset di tiga pasar itu, sedikit terpaut agak jauh. Omset di Pasar Mangli dari Rp. 500.000-1.000.000. Di pasar Gebang Rp. 30.000-50.000, dan Pasar Kreongan Rp. 400.000-500.000.

Untuk penataan, bupati berpesan para pedagang  untuk tidak terlalu mempersoalkan persaingan. Pemerintah bertugas menata dan memudahkan pembeli untuk mencari apa yang dibutuhkan.

“Jadi prancangan jejer prancangan, pecah belah jejer pecah belah, karena rezeki ndak akan tertukar,” tutur perempuan berlatar belakang dokter ini.

Di pasar Mangli, kata bupati, kios yang awalnya berjumlah 48 menjadi 60 unit di lantai 2 dan 37 kios di lantai bawah. “Di lantai 2 kios baru itu digunakan 54 pedagang yang dulu aktif berjualan di pelataran,” jelasnya.

Para pedagang, masing-masing medapat satu kios secara rata. SIM yang selama ini dipakai pedagang untuk berjualan diganti dengan kartu pemakaian tempat usaha. Kartu ini menyertakan ketentuan yang harus ditaati.

Syukuran Nganyari Pasar ini juga mengundang penceramah, yakni Gus Fikri. Dalam tausiahnya, Gus Fikri menyampaikan bahwa para pedagang ini telah melakukan sunnah Rasul yaitu berdagang “Sampeyan ini berdagang sudah meniru Rasulullah,” katanya.

Jika ingin berdagang dengan barokah, maka harus jujur dan tidak curang.  “Mau untung boleh, mau mencari laba boleh, tapi harus jujur dan tidak mengurangi timbangan,” jelasnya.

Karena ketika seseorang berbuat curang atau tidak jujur, maka pendapatan akan menjadi haram. “Semoga semua yang dilakukan bupati dan wakil bupati diridhoi Allah,” doanya. (*)

Kategori
Infrastruktur

Minggu Pertama Setelah Dihuni, Pasar Akan Dievaluasi

Bupati Jember dr. Hj. Faida, MMR, meninjau saat Pasar Kreongan yang telah siap untuk ditempati pedagang.

LONTARNEWS.COM. I. Jember – Menyusul acara Syukuran Nganyari Pasar, yang ditindaklanjuti peninjauan ke Pasar Kreongan dan Mangli setelah direhab, Bupati Jember dr. Hj. Faida, menyatakan, akan melakukan evaluasi pasca pasar itu dihuni. Evaluasi ini akan dilakukan pada minggu pertama setelah pasar dihuni.

Evaluasi itu untuk mengetahui, terkait kebutuhan kios, seperti rak khusus atau gantungan yang belum selesai. “Nanti kekurangan-kekurangan akan kita perbaiki dalam seminggu pertama setelah evaluasi pascahuni,” ungkap bupati, Sabtu (4/5/2019).

Namun begitu, untuk kepindahan para pedagang dari tempat penampungan sementara ke pasar yang sudah direhab, pihak pemkab akan mendampingi. “Setelah tadi kita slametan nganyari pasar, kita juga mendampingi pedagang pindahan ke pasar yang baru,” katanya.

)Revitalisasi pasar ini dilaksanakan sejak tahun 2018, dengan merevitalisasi 12 pasar. Revitalisasi ini merupakan relisasi 22 Janji Kerja Bupati dan Wakil Bupati, yang termuat dalam janji kedelapan.

Pada kesempatan kunjungan ke pasar ini, bupati bertanya kepada salah satu pedagang berapa jumlah retribusi yang dibayarkan. “Berapa sih, Bu, bayar retribusi setiap hari? Ringan atau berat?” tanya bupati.

“Cuma lima ribu, Bu. Ya sedang-sedang, Bu,” jawab salah satu pedagang di Pasar Kreongan.

Pada proses pemindahan pedagang, masih jelas bupati, sekaligus penataan tempat pedagang sesuai jenis dagangannya. “Supaya pasarnya lebih rapi, pembeli pun lebih mudah mencarinya,” bupati.

Bupati menyampaikan akan menggerakkan masyarakat untuk membeli produk lokal. Diantaranya masih banyak produk pertanian yang tidak masuk di pasar tradisional.

“Akses ini akan diperbaiki. Untuk harga, petani tidak perlu dibeli dengan semurah murahnya. Cukup harga yang wajar, biar semua happy dan mengendalikan inflasi,” terangnya.

Seorang pedagang bumbu di Pasar Kreongan, Indriati, mengaku sebelumnya pasar sepi pembeli. Namun, dengan kondisi yang baru ini mulai ramai pengunjung.

“Dulu sepi, Dik. Sekarang alhamdulillah sudah ramai. Dulu jemek (becek, red), sekarang bagus sekali dan cantik,” ujar perempuan yang dikenal sebagai Bu Slamet asal Gebang ini.

Sementara itu, Kholil yang mengaku telah berjualan ikan laut selama 10 tahun menyebut pasar hasil revitaliasi ini sebagai pasar modern.

“Sekarang pasarnya sudah modern. Sudah bagus. Enak sekarang sudah,” tuturnya, seraya berharap pasar baru ini selalau ramai kedepannya. (*).

Kategori
Infrastruktur

Gelar Syukuran Tandai Penempatan Pasar Tradisional yang Telah Direhab

Bupati Jember dr. Hj. Faida, MMR, dalam acara Syukuran Nganyari Pasar, di Aula PB Soedirman, Sabtu (4/5/2019).

LONTARNEWS.COM. I. Jember – Menandai tahab penempatan pasar tradisional yang telah direhap, Pemeritah Kabupaten Jember menggelar Syukuran Nganyari Pasar. Acara syukuran yang digelar di Aula PB Soedirman Pemkab Jember ini, mengundang ratusan pedagang pasar tradisional.

Pada acara yang juga dihadir Wakil Bupati Jember Drs. KH Abdul Muqit Arief serta Kepala Cabang BTN Jember, Holi Osri itu, Bupati Jember dr. Hj. Faida, MMR menjelaskan, bahwa program revitalisasi yang dimulai pada tahun 2018, dengan merevitalisasi 12 pasar, menggunakan anggaran sebesar Rp. 90 – 100 miliar.

Sembilan dari 12 pasar tersebut, sudah siap untuk ditempati. Pedagang yang direlokasi di pasar penampungan sementara bisa pindah. Untuk itu, tiga pasar sudah bisa memulai tahap pemindahan dagangan.

“Hari ini kita melakukan selamatan nganyari pasar bersama pedagang supaya pasar yang baru ini akan berkah, pembeli dan pedagang bisa senang,” kata Bupati Faida, dalam acara Syukuran Nganyari Pasar, di Aula PB Soedirman, Sabtu (4/5/2019).

Untuk tahun 2019 ini, pemerintah akan menyelesaikan lagi 15 revitalisasi pasar tradisional lainnya. Khusus Pasar Tanjung, yang menjadi pasar induk, membutuhkan empat tahap renovasi

“Hari ini saya melihat para pedagang kita bergembira. Namun ada juga yang belum bisa pindahan,” jelasnya.

Pedagang yang belum bisa pindah seperti pedagang ayam hidup, yang belum mendapatkan tempat dan akan mengikuti revitalisasi pasar burung.

Bupati menegaskan, pindahan ini bukan sekedar pindahan. Pindahan ini juga menata ulang, dengan mengelompokkan pedagang menurut bahan dagangannya. Ini untuk memudahkan pembeli mencari kebutuhannya.

Pindahan ini juga sekaligus untuk memperbaiki manajemen keuangan pasar. Salah satunya bekerjasama dengan perbankan untuk e-retribusi. “Sekarang retribusi tidak lagi bayar ke orang per orang, tetapi cukup pakai kartu e-retribusi,” bupati.

Dengan e-retribusi, begitu pedagang membayar maka langsung masuk ke kas Pemerintah Kabupaten Jember. “Untuk uji coba dilakukan di tiga pasar tradisional. Setelah uji coba selesai akan dilakukan di semua pasar,” ungkapnya.

Untuk tahun 2019, pemerintah menganggarkan sekitar Rp. 170 milyar untuk revitalisasi pasar tradisional. Revitalisasi ini juga akan membuat pedagang yang ada di pinggiran bisa berjualan di lapak yang terletak di lantai dua.

Sementara lahan yang biasa dibuat lapak bisa menjadi perluasan parkir. Para pedagang yang pindahan ini tidak perlu membayar untuk mendapatkan kios, karena memang tidak diperjualbelikan.

“Cukup membayar retribusi. Apabila tiga bulan berturut-turut tidak ditempati maka ditarik menjadi aset pemerintah,” jelasnya.

Kepala cabang BTN Jember, Holi Osri, mengatakan, sebagai mitra pemerintah dalam mengelola dana retribusi pasar tradisional, BTN menyiapkan mesin retribusi di tiga pasar yang sudah bekerjasama yaitu Pasar Patrang, Umbulsari, dan Mangli. “Kami menyiapkan mesin, termasuk dengan aplikasinya yang sifatnya online dengan sistem pembukuan Pemda,” terangnya.

BTN memberikan kartu kepada pedagang untuk alat membayar retribusi. “Cukup tap pada mesin yang sudah disediakan, selanjutnya akan terpotong saldo yang ada di kartu,” jelasnya. Di Mangli sudah terbagi 91 kartu e-retribusi

“Mereka nanti menabung ke BTN, dan petugas kami setiap hari keliling ke pasar. Kami siap mendukung Pemkab untuk menambah mesin baru ketika Pemkab sudah siap,” Holi. (*)

 

Kategori
Infrastruktur

Gantikan Garuda Indonesia, Citilink Layani Penerbangan Jember – Surabaya PP

Bandara Notohadinegoro, Jember

LONTARNEWS.COM. I. Jember – Terhitung sejak Minggu 28 April 2019, Garuda Indonesia tidak lagi melayani jasa transportasi udara di Bandara Notohadinegoro, Jember. Sebagai gantinya, anak perusahaan Garuda Indonesia, Citilink, akan mengisi layanan penerbangan
route Jember – Surabaya dan Surabaya – Jember.

Citilink harus menggantikan layanan penerbangan Garuda Indonesia di Bandara Notohadinegoro, karena tuntutan regulasi. Dengan beroperasinya Citilink ini, Bandara Notohadinegoro kembali memberikan layanan dua kali  penerbangan Jember – Surabaya dan sebaliknya.

“Customer harus tetap terlayani, maka anak perusahaannya harus bisa menggantikan,” kata Bupati Jember dr. Hj. Faida, MMR di GOR PKPSO Kaliwates.

Sebelumnya, Garuda Indonesia dan Wings Air memberikan layanan kepada masyarakat Jember dan sekitarnya. Dengan berhentinya Garuda Indonesia memberikan layanan ini, menjadikan Wings Air satu-satunya maskapai yang memberikan layanan penerbangan di Bandara Notohadinegoro.

Untuk beroperasi di slot Jember – Surabaya, Citilink telah mengantoni izin dari Dirjen Perhubungan Udara nomor AU/012/41/6/DRJU-DAU-2019. “Alhamdulillah, setelah pemilu kembali bisa dua kali penerbangan dan ini kita sambut dengan baik,” ujar bupati usai Wisuda Santri TPQ Al Ma’arif NU Cabang Jember, Minggu (28/4/2019).

Kembalinya layanan penerbangan ini, menurut bupati, tentu akan memudahkan bagi masyarakat Jember dan sekitarnya. Sesuai slot penerbangan, jadwal penerbangan Citilink dari Surabaya menuju Jember pada pukul 11:45 – 12:45. Penerbangan Jember – Surabaya pukul 13:15 – 14:15.

Lebih jauh bupati berharap pembangunan Bandara Notohadinegoro sebagai embarkasi haji dan umroh segera terwujud. Demikian pula dengan pembangunan bandara internasional untuk penerbangan domestik dan internasional, bupati berharap bisa segera terwujud. (*).

Kategori
Infrastruktur

Perlu Skenario Agar Perpindahan Pedagang Menjadi Momen Penataan Pasar Tradisional Lebih Rapi

Bupati Jember dr. Hj. Faida, MMR, berdialog dengan pedagang di pasar Mangli dalam kunjungannya ke tiga pasar tradisional, Kreongan, Gebang, Mangli, Minggu (14/4/2019).

LONTARNEWS.COM. I. Jember – Dari kunjungan di tiga pasar tradisional, Kreongan, Gebang dan Mangli, Bupati Jember dr. Hj. Faida, MMR, menilai perlu ada skenario agar perpindahan pedagang menjadi momen untuk menata pasar tradisional lebih rapi. Para pedagang yang saat ini menggelar barang dagangannya di penampungan sementara, akan segera dikembalikan ke tempatnya semula, karena pasar tradisional yang biasa digunakan untuk berjualan sudah selesai direhab.

Kita pastikan datanya, supaya nanti waktu pindahan supaya tidak jadi huru hara,” kata Bupati Faida, saat di Pasar Mangli, Minggu (14/4/2019).

Kunjungan kerja Bupati Jember ke tiga pasar tradisional yang sudah direhab ini juga untuk memastikan, nantinya tidak ada pedagang berebut kios baru. Selain juga untuk memastikan tidak ada jual beli kios kepada pedagang.

Bupati juga tidak akan memberikan toleransi kepada oknum yang melakukan pratik jual beli kios baru. Penataan kios-kios ini dibuat sedemikian rupa dengan menempatkan jenis dagangan pada tempat khusus, sehingga masyarakat mudah mencari kebutuhannya.

“Jika mau mencari onderdil di sebelah mana, dan sayur sebelah mana. Jadi ada plot khusus. Penataan ini dilakukan sesuai dengan jenis. Contoh seperti tadi (di Pasar Gebang, red) ada toko onderdil, itu kan tidak cocok bersebelahan sama sayur,” katanya.

Pun demikian dengan masalah manajemen, bupati menegaskan akan dilakukan perbaikan. Hal ini diantaranya meliputi kebersihan, pengelolaan maupun retribusi.

“Jaman sudah modern, pakai e-retribusi. Nanti ini semua pedagangnya punya kartu pedagang supaya hari itu bayar hari itu terdata,”

Dengan e-retribusi diharapkan tidak ada keterlambatan setor. Diketahui pula data pedagang yang belum bayar. Saat ini masih ujicoba retribusi di tiga pasar.

“Pengelolaan sampah harus juga diperbaiki, supaya bangunan yang baru tidak kembali menjadi kumuh. Nanti kita bina lebih lanjut,” imbuhnya.

Dari 12 pasar tradisional yang direhab pada tahun 2018, ada sekitar sembilan pasar yang dinilai sudah siap untuk dilakukan perpindahan. Pada tahun 2019 akan melanjutkan rehab untuk 15 pasar tradisional lainnya.

Perpindahan pedagang dari tempat penampungan sementara ke kios baru ini akan dilakukan setelah pemungutan suara atau Pemilu 2019. (*).

Kategori
Infrastruktur

Pemkab Jember Akan Lakukan Pengaspalan Jalan di 18 Titik

Bupati Jember dr. Hj. Faida, MMR, dalam kunjungan kerjanya ke wilayah utara Kabupaten Jember untuk memastikan rencana pengerjaan infrastruktur di daerah pelosok, berkesempatan mengunjungi rumah warga, Rabu (10/4/2019)

LONTARNEWS.COM. I. Jember – Kunjungan kerja Bupati Jember dr. Hj. Faida, MMR, ke beberapa pelosok desa di wilayah utara Kabupaten Jember, untuk memastikan rencana pengerjaan infrastruktur di daerah pelosok tersebut bisa segera dilaksanakan. Salah satu infrastruktur yang akan dibangun adalah jalan aspal.

Sedikitnya ada 18 titik sasaran jalan yang akan dibangun. “Katanya ibu-ibu minta diaspal. Jadi saya mau memastikan, kalau benar, jadi mau diaspal ?,” tanya Bupati Faida kepada ibu-ibu yang menyambut kedatangannya di Dusun Perbal, Dusun Gluduk, Kelurahan Bintoro, Kecamatan Patrang, Rabu (10/4/2019).

Kesempatan bertemu dengan warga dimanfaatkan betul oleh bupati untuk bercengkrama, sekaligus menanyakan berbagai hal terkait kebutuhan masyarakat. Mengenai kebutuhan jalan beraspal, bupati menjelaskan, akan memprioritaskan jalan menuju masjid, sekolah, atau pesantren.

Pemberian prioritas ini, bukan hanya untuk 6 berapa akses jalan beraspal, tapi juga penerangan jalan umum (PJU). “Pembangunan jalan ini memang keinginan masyarakat,” ungkap bupati.

Guna menindaklanjuti keinginanan masyarakat ini, bupati minta kepada pejabat yang mendampinginya, untuk mencatat kebutuhan masyarakat yang telah disampaikan melalui perbincangan. Bupati juga memerintahkan tim survei jalan untuk segera membuat perencanaan, sekaligus memberi tanda pada tempat-tempat yang akan dilakukan pembangunan jalan.

Dalam kunjungan kerja kali ini, bupati juga berkesempatan mendatangi rumah-rumah warga dan mengajak bincang-bincang penghuninya. Kepada Ketua RT maupun RW yang ditemui, bupati berusaha menggali informasi terkait kebutuhan masyarakat.

Apabila ada kebutuhan, bupati menyarankan, agar disampaikan ke RT atau RW, kemudian dituangkan dalam proposal untuk disampaikan kepada bupati. Sehingga pembangunan yang diharapkan bisa segera terealisasi dan berjalan lancar. (*).

Kategori
Infrastruktur

Kongres Air Minum, untuk Pemenuhan Air Bersih bagi Masyarakat

Bupati Jember, dr. Faida. MMR, bersama penerima sambungan gratis air bersih PDAM dalam Konggres Air Minum, di GOR PKPSO Kaliwates, Selasa (2/4/2019).

LONTARNEWS.COM. I. Jember – Sebagai bentuk kesungguhan dalam pemenuhan air bersih bagi semua orang, Pemerintah Kabupaten Jember bersama Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Jember menggelar Kongres Air Minum. Kongres yang dihadiri sekitar 4.000 orang ini merupakan rangkain kegiatan untuk memperingati Hari Air Sedunia.

Bupati Jember dr. Hj. Faida, MMR, yang hadir dalam acara itu menjelaskan, bahwa 4.000 orang yang menjadi peserta kongres adalah penerima sambungan gratis saluran air bersih dari PDAM. “Ini adalah wujud dari komitmen Pemerintah Kabupaten Jember, bahwa air bersih adalah hak semua orang,” ucap Bupati Faida, dalam Konggres Air Minum, yang digelar di GOR PKPSO Kaliwates, Selasa (2/4/2019).

Kongres dengan tagline “Pasang 4.000 Sambungan Gratis PDAM” ini merupakan kerjasama pemerintah daerah dengan pemerintah pusat. Pada tahun 2018, Pemkab Jember melalui APBD menyubsidi sebesar Rp. 2 Milyar. Anggaran ini meningkat pada tahun 2019 menjadi Rp. 10 milyar.

Lalu siapa saja yang berhak menerima pasang gratis air minum PDAM. Kriteria penerima sambungan air minum gratis, diantaranya keluarga dengan ibu hamil.

Keluarga dengan ibu hamil ini diberi sambungan air minum gratis, supaya bisa mendapatkan air bersih selama kehamilan hingga melahirkan dan anak yang dilahirkan sehat. Demikian pula dengan keluarga yang memiliki balita stunting atau kerdil juga mendapatkan prioritas untuk menikmati air bersih dari pemerintah ini. “Air bersih adalah salah satu solusi menyelesaikan masalah balita stunting,” jelas bupati.

Penyambungan gratis ini juga juga diberikan kepada keluarga yang memiliki anak tahfidz minimal satu juz, para guru ngaji, keluarga kader posyandu dan keluarga takmir masjid. Program ini juga untuk para dhuafa, buruh tani, buruh tembakau serta nelayan, agar bisa meningkat kesejahteraannya.

Sambungan gratis ini juga sebagai upaya bertahap untuk memperluas saluran air bersih di seluruh wilayah kabupaten. Saat ini baru 11 kecamatan dari 31 kecamatan yang telah tersambung dengan PDAM.

“Jember tidak kesulitan mata air. Tetapi, untuk infrastruktur penyambungannya yang perlu diolah, sehingga bisa melepaskan ke 31 kecamatan. Kita bikin IPA (instalasi produksi air bersih,red) baru, kolaborasi dengan APBN, sehingga lebih luas lagi,” imbuhnya.

Lebih jauh bupati menerangkan, pada tahun 2017 sekitar 37 persen masyarakat tersambung dengan air bersih. Pada tahun 2018 menjadi 45 persen dan tahun 2019 pemerintah menarget 50 persen masyarakat tersambung dengan PDAM.

Selain itu, bupati mengungkapkan program 4.000 sambungan gratis air bersih PDAM ini mendapat apresiasi dari Museum Rekor Indonesia (Muri). “Karena memang yang pertama kali memberikan pemasangan dengan jumlah yang paling banyak di Indonesia,” ujarnya. (*).

Kategori
Infrastruktur

Gotong Royong Masyarakat Desa Cangkring dan Wonojati Patut Menjadi Contoh

Bupati Jember, dr. Hj. Faida, MMR , dalam acara peresmian jembatan antar Desa Cangkring dan Wonojati, Kecamatan Jenggawah, Sabtu (30/3/2019).

LONTARNEWS.COM. I. Jember – Kebersamaan, kegotong royongan masyarakat Desa Cangkring dan Desa Wonojati, Kecamatan Jenggawah, hingga berhasil mewujudkan jembatan penghubung patut ditiru dan dijadikan contoh. Masyarakat dua desa itu telah berhasil membangun jembatan penghubung antar-desa secara swadaya.

“Pembangunan jembatan seperti ini perlu dicontoh,” ujar Bupati Jember, dr. Hj. Faida, MMR , dalam acara peresmian jembatan antar Desa Cangkring dan Wonojati, Kecamatan Jenggawah, Sabtu (30/3/2019).

Peresmian jembatan dengan panjang 31 meter dan lebar 3,25 meter itu berlangsung cukup meriah, dengan panggung yang terbuat dari bambu. Sementara masyarakat menikmati suasana dengan berada di bawah rindangnya pepohonan khas perdesaan.

“Karena membangun desa tidak bisa sendiri-sendiri, harus ada kolaborasi. Ini (jembatan) salah satu contoh kerjasama,” ujar bupati.

Kebersamaan dan gotong royong yang ditunjukkan masyarakat inilah yang mengundang minat bupati ingin melengkapi fasilitas lain yang dibutuhkan oleh masyarakat. “Saya salut dan bangga, karena ini jembatan adalah gotong-royong masyarakat. Dananya dan cara mengerjakannya pun swadaya masyarakat,” ungkapnya.

KH Lufhfi Achmad, Pimpinan Ponpes Midinatul Ulum, Cangkring, menjelaskan, pembangunan jembatan yang menghubungkan Desa Wonojati dan Cangkring, menghabiskan biaya sebesar Rp. 280 juta. Panjang jembatan 31 meter dengan lebar 3,25 meter.

Kiai Luthfi, berharap, jembatan ini membuka isolasi masyarakat. Karena sebelumnya, kondisinya tidak bisa dilewati mobil. Bahkan becak pun sulit untuk lewat.

“Jembatan ini juga akan menjadi akses yang masuk di dalam skema pembangunan desa, karena selama ini dalam peta desa tidak tercantum jalannya, tidak ada jalan desa,” ungkapnya.

Jembatan ini diharapkan bisa masuk dalam renstra (rencana strategis) pembangunan. Sehingga, jembatan tersebut pembangunan selanjutnya masuk dalam peta desa. Begitu pula dengan jalannya, tercatat sebagai jalan desa dan mendapatkan prioritas pembangunan. (*)

Kategori
Infrastruktur

Bangga Karena Musrenbang Tahun 2020 Inklusi

Bupati Jember, dr. Faida. MMR, dalam acara Musrenbang Kabupaten Jember 2020 di Aula PB Soedirman, Pemkab Jember, Senin (18/3/2019).

LONTARNEWS.COM. I. Jember – Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kabupaten Jember tahun 2020, sedikit berbeda dengan sebelumnya. Ini terjadi, karena pada Musrenbang Kabupaten Jember tahun 2020, diikuti perwakilan dari difabel, lansia, perempuan, perwakilan anak-anak dan masyarakat desa.

“Saya bersyukur, karena Musrenbang hari ini lebih lengkap lagi. Musrenbang kabupatennya menjadi inklusi, ada perwakilan dari difabel, perwakilan lansia, perwakilan dari anak-anak, perwakilan perempuan, dan perwakilan masyarakat desa,” kata Bupati Faida, dalam acara Musrenbang Kabupaten Jember 2020 yang digelar di Aula PB Soedirman, Pemkab Jember, Senin (18/3/2019).

Namun begit, bupati juga berharap, musrenbang ini bisa efektif, bisa mendengar, merangkum keinginan masyarakat. Serta benar-benar memilih satu program yang dibutuhkan dan diinginkan masyarakat.

“Di tahun politik jangan sampai ada pemindahan-pemindahan titik (pembangunan) karena kepentingan politik. Sejatinya kepentingan masyarakat adalah fokus utama pembangunan,” tegasnya.

Pada tahun 2020, pembangunan Kabupaten Jember fokus pada Jember Mandiri, Jember Kuat, dan Bersih. Artinya, Kabupaten Jember juga mandiri dari ekonomi.

Dikatakan bupati, kini sudah saatnya dunia pertanian, perikanan, peternakan, menjadi kemandirian pangan. Begitu pula dengan UMKM dan ekonomi kerakyatan harus bisa bangkit, sehingga bantuan modal usaha dan akses pemasaran serta sinergisitas distribusi bersama pemerintah daerah bisa menjadi fokus utama.

Sementara Kepala Bakesbangpol Provinsi Jatim Drs. Ec. Jonathan Judianto, MMT, yang hadir dalam acara itu menyampaikan, bahwa forum Musrenbang Kabupaten mempunyai arti penting. Karena melalui forum ini seluruh pemangku kepentingan melakukan penajaman, penyelarasan dan klarifikasi.

Sehingga melalui kegiatan itu, bisa dicapai kesepakatan terhadap Rencana Kerja Pembangunan Daerah Kabupaten (RKPD) Jember tahun 2020. “Sejarah penyelenggaraan pemerintah di Indonesia, mengalami perkembangan dan dinamika,” paparnya.

Rencana pembangunan yang semula sentralistik, kini berubah menjadi otonom. Perubahan yang demikian ini, tidak lantas membuat pemerintahan terkotak-kotak.

Pembagian pemerintahan tersebut bertujuan untuk meningkatkan pelayanan dan pemberdayaan masyarakat, dengan menanggalkan praktek ego sektoral. “Pemerintah pusat dan daerah merupakan satu kesatuan yang tidak bisa berdiri sendiri-sendiri,” jelasnya.

Karena itu, perencanaan pembangunan harus bersinergi antar-pusat dan daerah dalam sistem penyelenggaraan pemerintahan dengan muara yang sama, yakni meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Jonathan juga berharap, hasil Musrembang terkait program kegiatan yang akan diusulkan ke Pemerintah Provinsi Jawa Timur agar segera dimasukkan dalam aplikasi E-planning.

“Ini kemudian dibahas lebih lanjut di forum Musrenbang Provinsi Jawa Timur pada April 2019 di Surabaya,” terangnya.

Jonathan melihat, di bawah kepemimpinan Bupati Faida, seluruh indikator dan kewilayahan sudah on the ride right. “Dalam perjalanan yang benar, dan sangat bagus,” ujarnya.

Ia juga memberikan apresiasi luar biasa karena fokus bupati, betul-betul untuk menyejahterakan masyarakat di Kabupaten Jember dari segala sisi.(*).

Kategori
Infrastruktur

Bupati Segera Siapkan Call Centre untuk Pengaduan Kondisi Jalan

Bupati Jember, dr. Hj. Faida, MMR, didampingi Plt. Kepala Dinas PU Bina Marga, Jember Yessiana Arifa ST M.Eng, bersama Tim Jalan Lubang ikut menambal jalan yang berlubang, Jumat (1/3/2018).

LONTARNEWS.COM. I. Jember – Rusaknya beberapa ruas jalan menyusul tingginya curah hujan di Jember sejak beberapa bulan belakangan, memaksa Dinas PU Bina Marga harus bekerja ekstra. Ini mesti dilakukan, karena akibat tingginya curah hujan itu, banyak jalan yang berlobang.

Kondisi ini sangat membahayakan para pengguna jalan, sehingga butuh kesegeraan pihak PU Bina Marga untuk melakukan perbaikan atau menutup jalan yang berlubang yersebut. Karena jika tidak, maka bukan tidak mungkin akan semakin banyak korban yang berjatuhan akibat dari rusaknya atau berlubangnya jalan itu.

“Rute awal perbaikan jalan aspal ini yakni Jalan Kalimantan, Mastrip, Riau dan Jawa,” ungkap Yessiana Arifa ST M.Eng, Plt. Kepala Dinas PU Bina Marga, Jember, saat mendampingi Bupati Jember, dalam kegiatan perbaikan jalan oleh Tim Jalan Lubang Bina Marga, Jumat (1/3/2019).

Sedang untuk perbaikan jalan yang merupakan tanggungan provinsi, termasuk jalan nasional, Yessi mengaku sudah dikoordinasikan.

Perbaikan jalan berlubang ini, merupakan respon atas keluhan warga, akibat tidak disegerakannya oleh instansi yang berurusan langsung dengan masalah jalan. Kegiatan oerbaikan jalan berlubang ini disaksikan langsung oleh Bupati Jember, dr. Hj. Faida, MMR.

Bupati bahkan memimpin sendiri operasi tim perbaikan jalan yang kini diberi nama Tim Jalan Lubang. Menggantikan tim lama yang dikenal dengan Unit Reaksi Cepat.

“Saya juga akan turun di lapangan bersama mereka,” kata bupati kepada wartawan usai memberikan pengarahan kepada petugas yang tergabung dalam Tim Jalan Lubang di Pendopo Wahya Wibawa Graha, Jumat (1/3/2019).

Dijelaskan, untuk mengetahui dan merespon keluhan masyarakat, khususnya terkait kondisi jalan, bupati mengungkapkan, Pemkab Jember akan membuat pusat pengaduan (call centre). Pusat pengaduan ini bisa dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mengadukan jalan berlubang yang mungkin terlewatkan oleh pantauan pengamat jalan.

“Sehingga masyarakat juga bisa memanggil tim jalan berlubang melalui call centre,” jelas Bupati Faida.(*).